Selasa, 17 Desember 2019

N.E.K.A.T

Foto doc. Sumber :warung-sepur-buyut-suro,busines,site



                                     N.E.K.A.T

Ia  seperti manusia biasa. Makan,minum serta tidur jika lelah mulai menghampiri.  Jika dilihat sekilas sungguh tak ada keistimewaan.  Tapi jika kau tau tentang kehidupanya kau akan tertegun. Tentang sebuah tekad dan bakat. Membuatnya ia berbeda dari manusia pada umumnya.  Tekad dan bakat itulah yang membuatnya benar benar hidup. Seperti  hobinya melukis karikatur yang hidup di hati yang memesanya.

Jika kau berjalan sekitar tiga meter  ke arah selatan  tepat di kanan jalan dekat pertigaan ada bangunan mirip kepala kereta lengkap dengan manusia berseragam masinis.  Sesekali ia memberi karcis pada setiap insan yang datang. Dengan ramah serta senyum yang manis  manusia berseragam masinis akan mencatat apa yang kita tunjuk oleh jari kita di setiap karcis yang di berikan. Sayangnya Jika kau mencari lokasi tujuan kesebuah daerah, rumah ke kasihmu misalnya. kau tidak akan pernah menemukan. Karcis itu hanya berisi makanan dan minuman. Karna itulah ia berbeda dari kereta pada umumnya dan karna itulah ia di beri nama “Warong Sepor

Pak khresna adalah manusia pemilik warong sepor walaupun ia tak sepenuhnya memilikinya. Ia paroan dengan teman seperjuanganya. Kawan aku akan sedikit menceritakan pertemuanku dengannya dengan sosok manusia yang berbeda dari khlayak.Lengkap dengan kereta yang berbeda dengan kereta biasa.

Ia duduk tak jauh dari manusia yang berdiri lengkap dengan manusia berseragam masinis, Lampu yang berwarna kekuningan ditambah musik-musik  yang di sediakan oleh warong tersebut membuat suasa semakin syahdu. Ia memegang rokok  dan menawarkan pada kami sayang waktu itu diantara kami tidak ada yang merokok.

“Bapak menggambar karikatur dulu, belajarnya otodidak atau sekalah?” Syafi Pengabadi gambar mengajukan pertanyaan.

“Saya dulu sejak kecil hobi melukis,lalu kuliah di salah satu perguruan tinggi malang jurusan lukisan. Saat itulah saya menemukan kecocokan, Namun saya lulus tidak tepat waktu.”

“Mengapa?” Asri seorang gadis  penyuka sastra menyentuh kacamatanya tampak penasaran

“Saya akan bercerita?” Suasa jadi jadi tampak syahdu musik musik terus dimainkan dan seorang perempuan berseragam masinis yang berdiri tak jauh dari kami  tersenyum manis ntah karena apa. Mungkin memang sudah tugasnya untuk selalu tersenyum. Tapi apakah selalu begitu. Selalu tersenyum pada setiap insan yang berkunjung kesini. Apakah kau akan mengatakan tugas. Pada setiap angin yang  berembus?  Juga pada lautan ketika bergelombang? Bahkan pada matahari ketika ia bersinar. Ntahlah aku tak mau memikirkan itu. Lebih baik aku mendengarkan cerita ini.

“Dulu sejak di kuliah aku juga bekerja, disebuah kantor lukisan, maklum saya kuliah dengan biaya sendiri. Jadi karna kurang bisa bagi waktu akhirnya telat”.

“Pak di Instagram bapak sepertinya,bapak sering jalan jalan keluar?” Asri mengajukan pertanyaan kembali

“Iya, sering bahkan sejak kuliah. Jadi mau kemana ya..langsung berangkat. Seperti dulu waktu kuliah, salah satu temanku mengajak kebandung. Langsung seketika berangkat. Nanti disana urusan belakang. Tapi biasanya di sana kita jual lukisan atau komik komik-komik buatan sendiri. Yang penting Nekat”

Laju pikiranku tertuju pada sebuah angan. Tentang sebuah kata ” Nekat”. Aku teringat banyak sekali penulis besar bermula dari nekat. Mereka rela mengeluarkan uang banyak hasil kerja kerasnya untuk melalang buana ke negeri sembarang. Kemudian mereka membuat karya walaupun proses sampai karya itu besar masih panjang tapi dengan sebuah tekad dan komitmen dia menjadi penulis terkenal salah satunya adala fiersa besari.   Jujur waktu itu aku ingin menanyakan “Apakah bapak tidak menulis perjalanan bapak?. Sayangnya  ketika akau mau menanyakan itu temanku cowok pengabadi gambar duluan menanyakan sesuatu lain.

“Pak, setelah bapak lulus apakah bapak tetap melanjutkan hobi sebagai pelukis.”

“Iya, saya ke bali sebagai pelukis dan sukses di sana. Banyak sekali yang memesan lukisan saya mulai dari penduduk bali,tokoh tokoh2 masyarakat bali hingga para pejabat dan apresiasi mereka terhadap karya seni begitu tinggi salah satunya membeli dengan harga tinggi Hingga saatnya tiba saya menikah”. Pemuda tersebut mengambil rokok sambil menawarkan kepada kami. Sesekali ada orang yang menyapa beliau.

“Nak,selama Masih muda melalangbuanalah ke negeri sembarang. Buang rasa takut. Allah bersama orang-orang yang nekat”. Aku tersenyum ternyata banyak sekali kehidupan manusia yang menarik di sekitar kita. Hanya saja seringkali kita melewatkan.

“Apakah, Bapak pernah berada dititik terendah,lalu apa yang bapak lakukan” Pertanyaanku sedikit miring.

“ Setiap orang pasti pernah berada di titik terendah, termasuk bapak. Namun jangan sampai kau hanya diam.  Hadapi !!! jika kau tak kuat menghadapi dengan berdiri maka hadapilah dengan merangkak meskipun kau tetatih satu hal  jangan sampai takut apalagi lari.” Sebuah kata yang membuatku untuk bangkit kembali.

Seorang berambut putih berkaos hitam berkacama mata yang berda di belakang pak khresna  tampak tetap santai menikmati layar ponselnya sesekali ia mengangguk dan tersenyum sendiri. Dan aku  juga mengangguk tetapi bukan karna layar hp. Mengangguk akan cerita pak khresna. Sesekali pak khresna menyapanya “bentar ya bro?” lalu di belakangnya menjawab “iya santai”.

Kuamati ia mengambil sebatang rokok. Matanya memandang keatas sebentar kemudia mengambil korek.  Kemudian membakar ujung rokoknya,sedikit menghisapnya lalu asap keluar dari bibir tak bertulangnya.

“ Titik terendahku saat aku sukses. Lalu aku di tipu temanku sendiri waktu di bali seluruh rumah mobil hangus,bahkan sekarang mantan istri tak tau kemana. Itu titik terendahku. Kemudian ia menghisap rokoknya lalu mengeluarkan asap kembali dari bibir tak bertulangnya.

“Aku pulang dan mengerjakan pesanan lukisan seadanya.  Lalu ada teman tang menawari ada warong kopi siap pakai satu tahun 14 juta. Aku ragu tapi lagi-lagi aku teringat dengan sebuah kata. Allah bersama dengan orang-orang yang nekat”

“Dari mana bapak mendapat uang sebanyak itu?”

“ Sekalilagi Allah bersama orang-orang yang nekat. Aku memberanikan diri untuk memberi DP sebesar 3 Juta karna memang aku tak punya uang banyak. Syukur temanku mau,akhirnya aku berusaha merawat warong tersebut dan syukur perekonomian ku mulai membaik. Dan tak lama aku bersama temanku mendirikan warong sepur disini ini”.

“Pak mohon maaf kita mau pamit,soalnya ditunggu teman teman” Permohinan Asri inii penutup dari perbincangan ini. Lalu kami pamit unur diri. Kuamati pak khresna berpindah duduk dengan seorang yang adi di belakangnya





“Semoga kita menjadi orang yang tidak mengenal kata putus asa”



Tidak ada komentar:

Posting Komentar