Foto doc. Sumber :warung-sepur-buyut-suro,busines,site
N.E.K.A.T
Ia seperti manusia
biasa. Makan,minum serta tidur jika lelah mulai menghampiri. Jika dilihat sekilas sungguh tak ada
keistimewaan. Tapi jika kau tau tentang
kehidupanya kau akan tertegun. Tentang sebuah tekad dan bakat. Membuatnya ia
berbeda dari manusia pada umumnya. Tekad
dan bakat itulah yang membuatnya benar benar hidup. Seperti hobinya melukis karikatur yang hidup di hati
yang memesanya.
Jika kau berjalan sekitar tiga meter ke arah selatan tepat di kanan jalan dekat pertigaan ada
bangunan mirip kepala kereta lengkap dengan manusia berseragam masinis. Sesekali ia memberi karcis pada setiap insan
yang datang. Dengan ramah serta senyum yang manis manusia berseragam masinis akan mencatat apa
yang kita tunjuk oleh jari kita di setiap karcis yang di berikan. Sayangnya
Jika kau mencari lokasi tujuan kesebuah daerah, rumah ke kasihmu misalnya. kau
tidak akan pernah menemukan. Karcis itu hanya berisi makanan dan minuman. Karna
itulah ia berbeda dari kereta pada umumnya dan karna itulah ia di beri nama “Warong
Sepor
Pak khresna adalah manusia pemilik warong sepor walaupun
ia tak sepenuhnya memilikinya. Ia paroan dengan teman seperjuanganya.
Kawan aku akan sedikit menceritakan pertemuanku dengannya dengan sosok manusia
yang berbeda dari khlayak.Lengkap dengan kereta yang berbeda dengan kereta
biasa.
Ia duduk tak jauh dari manusia yang berdiri lengkap
dengan manusia berseragam masinis, Lampu yang berwarna kekuningan ditambah
musik-musik yang di sediakan oleh warong
tersebut membuat suasa semakin syahdu. Ia memegang rokok dan menawarkan pada kami sayang waktu itu
diantara kami tidak ada yang merokok.
“Bapak menggambar karikatur dulu, belajarnya otodidak atau
sekalah?” Syafi Pengabadi gambar mengajukan pertanyaan.
“Saya dulu sejak kecil hobi melukis,lalu kuliah di salah
satu perguruan tinggi malang jurusan lukisan. Saat itulah saya menemukan
kecocokan, Namun saya lulus tidak tepat waktu.”
“Mengapa?” Asri seorang gadis penyuka sastra menyentuh kacamatanya tampak
penasaran
“Saya akan bercerita?” Suasa jadi jadi tampak syahdu
musik musik terus dimainkan dan seorang perempuan berseragam masinis yang
berdiri tak jauh dari kami tersenyum
manis ntah karena apa. Mungkin memang sudah tugasnya untuk selalu tersenyum.
Tapi apakah selalu begitu. Selalu tersenyum pada setiap insan yang berkunjung
kesini. Apakah kau akan mengatakan tugas. Pada setiap angin yang berembus?
Juga pada lautan ketika bergelombang? Bahkan pada matahari ketika ia
bersinar. Ntahlah aku tak mau memikirkan itu. Lebih baik aku mendengarkan
cerita ini.
“Dulu sejak di kuliah aku juga bekerja, disebuah kantor
lukisan, maklum saya kuliah dengan biaya sendiri. Jadi karna kurang bisa bagi
waktu akhirnya telat”.
“Pak di Instagram bapak sepertinya,bapak sering jalan
jalan keluar?” Asri mengajukan pertanyaan kembali
“Iya, sering bahkan sejak kuliah. Jadi mau kemana
ya..langsung berangkat. Seperti dulu waktu kuliah, salah satu temanku mengajak
kebandung. Langsung seketika berangkat. Nanti disana urusan belakang. Tapi
biasanya di sana kita jual lukisan atau komik komik-komik buatan sendiri. Yang penting
Nekat”
Laju pikiranku tertuju pada sebuah angan. Tentang sebuah
kata ” Nekat”. Aku teringat banyak sekali penulis besar bermula dari nekat.
Mereka rela mengeluarkan uang banyak hasil kerja kerasnya untuk melalang buana
ke negeri sembarang. Kemudian mereka membuat karya walaupun proses sampai karya
itu besar masih panjang tapi dengan sebuah tekad dan komitmen dia menjadi
penulis terkenal salah satunya adala fiersa besari. Jujur waktu itu aku ingin menanyakan “Apakah
bapak tidak menulis perjalanan bapak?. Sayangnya ketika akau mau menanyakan itu temanku cowok
pengabadi gambar duluan menanyakan sesuatu lain.
“Pak, setelah bapak lulus apakah bapak tetap melanjutkan
hobi sebagai pelukis.”
“Iya, saya ke bali sebagai pelukis dan sukses di sana.
Banyak sekali yang memesan lukisan saya mulai dari penduduk bali,tokoh tokoh2
masyarakat bali hingga para pejabat dan apresiasi mereka terhadap karya seni
begitu tinggi salah satunya membeli dengan harga tinggi Hingga saatnya tiba
saya menikah”. Pemuda tersebut mengambil rokok sambil menawarkan kepada kami.
Sesekali ada orang yang menyapa beliau.
“Nak,selama Masih muda melalangbuanalah ke negeri
sembarang. Buang rasa takut. Allah bersama orang-orang yang nekat”. Aku
tersenyum ternyata banyak sekali kehidupan manusia yang menarik di sekitar
kita. Hanya saja seringkali kita melewatkan.
“Apakah, Bapak pernah berada dititik terendah,lalu apa
yang bapak lakukan” Pertanyaanku sedikit miring.
“ Setiap orang pasti pernah berada di titik terendah,
termasuk bapak. Namun jangan sampai kau hanya diam. Hadapi !!! jika kau tak kuat menghadapi dengan
berdiri maka hadapilah dengan merangkak meskipun kau tetatih satu hal jangan sampai takut apalagi lari.” Sebuah kata
yang membuatku untuk bangkit kembali.
Seorang berambut putih berkaos hitam berkacama mata yang
berda di belakang pak khresna tampak
tetap santai menikmati layar ponselnya sesekali ia mengangguk dan tersenyum
sendiri. Dan aku juga mengangguk tetapi
bukan karna layar hp. Mengangguk akan cerita pak khresna. Sesekali pak khresna
menyapanya “bentar ya bro?” lalu di belakangnya menjawab “iya santai”.
Kuamati ia mengambil sebatang rokok. Matanya memandang
keatas sebentar kemudia mengambil korek.
Kemudian membakar ujung rokoknya,sedikit menghisapnya lalu asap keluar
dari bibir tak bertulangnya.
“ Titik terendahku saat aku sukses. Lalu aku di tipu
temanku sendiri waktu di bali seluruh rumah mobil hangus,bahkan sekarang mantan
istri tak tau kemana. Itu titik terendahku. Kemudian ia menghisap rokoknya lalu
mengeluarkan asap kembali dari bibir tak bertulangnya.
“Aku pulang dan mengerjakan pesanan lukisan
seadanya. Lalu ada teman tang menawari
ada warong kopi siap pakai satu tahun 14 juta. Aku ragu tapi lagi-lagi aku
teringat dengan sebuah kata. Allah bersama dengan orang-orang yang nekat”
“Dari mana bapak mendapat uang sebanyak itu?”
“ Sekalilagi Allah bersama orang-orang yang nekat. Aku
memberanikan diri untuk memberi DP sebesar 3 Juta karna memang aku tak punya
uang banyak. Syukur temanku mau,akhirnya aku berusaha merawat warong tersebut
dan syukur perekonomian ku mulai membaik. Dan tak lama aku bersama temanku
mendirikan warong sepur disini ini”.
“Pak mohon maaf kita mau pamit,soalnya ditunggu teman
teman” Permohinan Asri inii penutup dari perbincangan ini. Lalu kami pamit unur
diri. Kuamati pak khresna berpindah duduk dengan seorang yang adi di
belakangnya
“Semoga kita menjadi orang yang tidak mengenal kata putus
asa”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar