Jumat, 24 Januari 2020



MENUNGGU
“Sebuah jawaban atas catatan junior”
Sumber foto :doc. Pribadi



Kau sedang duduk memendam emosi didadamu. dipinggiran jalan kau lihat lalulang kesibukan manusia membuatmu semakin emosi. Ingat tidak. Hingga kau menulis catatan kritik dan memberi  penegasan pada namaku. Padahal di alinea awal kau menuliskan teruntuk senior  yang namanya tersamarkan. Ah ! tampaknya kau tipe orang yang suka membuat pertentangan. Tak usah gusar ini sekarang aku baca semua catatanmu itu. Sekarang pasti kau sudah bisa melepas kemarahanmu. Seperti kata firsa besari  “Menulis adalah terapi untuk diri sendii”.
“kemarin sudah ditunda lho dengan berangkat hari ini diwaktu pagi. Tapi sekarang sudah siang?” Kau lemparkan sedikit kemarahanmu melalui ponsel akibat terlalu lama menunggu.
Aku tau kau sudah lama menunggu. Satu hari lebih setengah hari di jalanan itu. Kaupun juga takut jika semakin sore akan terjadi hujan. Lalu badai datang. Sementara orang yang kau tunggu tak kunjung datang. Padahal kau berharap cepat berangkat agar tidak ada satupun air yang mengenaimu dalam perjalanan.
Matahari mulai merangkak sedikit kebarat. Sesekali kendaraan mengamuk dengan membunyikan klaksonya. Sesekali seseorang menawarkanmu bersinggah di rumahnya karna merasa iba. Dan seketika itu kemarahanmu semakin memuncak kepadaku. Kau ingin mengumpat tapi kepada siapa karna orang yang kau benci belum juga daatang.
Wahai junior. Aku sebenarnya juga ingin marah pada birokasi yang panjang yang berbelit-belit. Birokrasi yang menyusahkan dan membuang-buang waktu masyarakatnya. Apalagi harus berbolak-balik terombang-ambing. Kita tepat waktu tapi petugasnya molor dan jarang sekali ada penindakan terhadap mereka. Katanya ada pemotongan sistem birokarasi dengan daring. Tapi sistemnya seingkali eror. Ah!. Tapi sebagai masyarakat biasa mungkin protespun tak pernah didengar. Mereka akan mengatakan “Kalian tidak tahu keadaan disini semua sudah tersistem” lalu meneruskan pekerjaanya tanpa memedulikan kami. Bukankah mereka adalah pelayan masyarakat yang harusnya mendengar aspirasi. Ah aku ingin melempar kemarahan ku pada rumput,pada pohon-pohon yang selalu diam. Aku ingat periswa masa lalu peristiwa saat di surabaya.. Masyarakat harus berbolak-balik hanya untuk mengurus E ktp.  Ah sudhlah!. Aku ingin segera menemuimu.dan melaju kencang ke tempat  tujuan traveling bersama teman-teman. Kuharap kau tak memarahiku lagi.

Sebagai penutup dari tulisan ini kau tentu ingat asma nadia pernah mengatakan”Bagi traveler,kehilangan sesuatu diperjalanan pasti pahit,bahkan bisa merusak  semua rencana yang sudah di susun. Tapi keikhlasan akan membuat satu dua kehilangan atau peristiwa tak diinginkan  yang sangat mungkin terjadi. Tak menguapkan semua keceriaan selama perjalanan”


Tulungagung,25 Januari 2020