Jumat, 27 Desember 2019

Hujan



Sumber : 

HUJAN

Kau adalah saksi dari sebuah pertemuan.

Saat dua insan saliang bertautan

 Jiwaku mulai mekar kembali. Seolah tumbuhan dan tanah  gersang lalu kau siram.

Kala itu   angan  mulai beterbangan kemudian kau ajak menari bersamamu.

                Kau adalah saksi hilangnya harapan

                Di sebuah bukit Kala itu kau dipaksa alirkan sampah-sampah kilang.

                para bandar mencangkul kemudian mengambil pualam

                Sementara petani mencangkul kotoran kilang.

Hujan kau  jadi tanda tanya?

 akan  hadirkan pelangi dan menari

atau luapan kemarahan

Hujan sebagai harapan atau kesedihan.


Nganjuk,27 Desember 2019, Ter inspirasi  peristiwa 2017 silam







Selasa, 24 Desember 2019

L.A.L.A.I


                                         Sumber doc: https://difalovers.wordpress.com/2013/05/13/10-etika-dalam-menggunakan-komputer-dan-internet/



L.A.L.A.I


             Ia terkapar lemah tak berdaya. Matanya terpejam, Sesekali napasnya tersenggal senggal. Kepala bagian atas diikat akibat pecahnya pembuluh otak sehingga ia harus di operasi. Ia termasuk pasien istimewa. Bagaimana tidak ruangan ber ac,mewah serta peralatan yang menunjukkan detak jantung terpasang di dekatnya.  Namun Apalah arti itu semua. Jika infus serta alat pembuat nafas buatan selalu melekat pada tubuhnya. Aku merasakan Hidupnya tinggal hari esok atau bahkan tak sampai. Berkali kali bacaan ayat suci dilantunkan kepadanya melalui handphon. Pesan pesan kebaikan selalu di dengungkan ke telinganya. Para dokter keluar masuk untuk mengetahui perkembangan kesehatanya. Saudara-saudaanya sebagian masih mengurusi pekerjaan.

            “Asslamu’alaikum wr.wb”. Seorang bocah datang keruanganya

            “Wa’alaikumussalam wr,wb. Adik siapa ya.?? Seorang kakek mengajukan pertanyaan kepadaku

Anak istrinya terisak isak menahan tangis. Sebuah nama tertulis dipapan tepat di bawah kakinya “Pak Tarman” lengkap dengan usia serta nama perawat yang menanganinya. Ac masih menyala dingin. Diruangan itu hanya ada 2 pasien dan di batasi dengan “slambu”.

            “Aku Atif pak.” Kakek itu tampak masih kebingungan. Ia menoleh sebentar kearah jendela kemudian memandangku kembali.

            “Atif siapa??”

            “Atif yang di suruh oleh pak  agus untuk membacakan yasin.”. Kakek itu tampaknya mulai sedikit memahami tapi ia belum percaya sepenuhnya karna mungkin tubuhku yang kecil. Ia mengajukan pertanyaan kepadaku kembali

            “Bapak suyono siapa?”

            “ Bapak suyono kepatihan”

            “Oalah, mari mari dek”

            Kakek itu memperkenalkan Cucu dan istri pak tarman kepadaku. Kemudian ia mempersilahkanku mau melakukan apa apapun. Suasana sangat hening. Matahari mulai merangkak kembali ke peraduanya. Langit memerah seakan memberi peringatan hari ini akan berakhir. Anak dan istri pak tarman berdiri disamping kiri pak tarman menahan tangis. Sedangkan aku di sebelah kanan pak tarman. Sementara seorang kakek mematung di dekatku seakan terus mengawasi pergerakanku. Kulihat tanda di monitaor stabil. Walaupun sesekali napasnya tersenggal senggal.

            “Kek,apakah aku boleh minta air sebotol”.

            Kakek itu seakan tak tak percaya bahwa aku yang diutus oleh pak agus saudaranya sendiri untuk kesini. Ia menyuruh cucunya untuk mengambilkan air untukku. Kuletakkan air itu di meja dekat kepala pak tarman. Kemudian aku meminta izin pada kakek dan keluarga

            “Kek,sebenarnya saya disini diundang pak agus untuk membaca yasin di dekat pak tarman. Saya mohon izin pada kakek dan keluarga untuk membaca yasin  sebanyak 3. 

                                                            ***

            Matahari  mulai menuju tempat peristirahatanya. Burung-burung mulai kembali kesarangnya lalu menyerahkan harapan hari esok kepada tuhannya.  Adzan magrib dikumandangkan dari segala penjuru. Jika tanah menjadi alamat selanjutnya tentu tak akan ada lagi canda tawa bersama anak istrinya. Ia akan bertemu sunyi, gelap dan berteman dengan belatung.,meratapi dosa. Hanya amalan baiklah yang bisa mengubah tempat itu menjadi indah. Anak gadis itu menahan tangis. Air mtanya sesekali keluar merembes mengalir kesudut pipinya. Aku terus membaca yasin dan ini sudah ke tiga kalinya di ayat ayat trakhir.

            ”Ada apa ini?” istri pak tarman bingung.

            Tiba-tiba dipan rumah sakit bergetar-getar makin lama makin kencang. Tiang infus seolah hendak merobohkan raganya. Nafasnya kembali tersenggal-senggal,layar di monitor tak stabil. Ruangan itu mendadak berubah menjadi panik. Rapalan do’a do,a di dengungkan oleh anak dan istrinya.Nama-nama indah digunakan untuk merayu sang pencipta. Sementara sang kakek pergi memanggil dokter dan aku masih melanjutkan bacaan hingga selesai.

            ”Kakek tenang duduk dulu ya tidak ada apa-apa”. Dokter mencoba menenangkan kakek.

Jujur sebenarnya aku juga sedikit ketakutan tapi apalah daya. Aku harus menyelesaikan bacaanku. Air botol disampingku masih berdiri. Airnya bergerak akibat terkena goncangan. Aku Selesai membaca yasin kututup  Al quran. Aku mendekati kakek yang panik. Kucoba menenangkanya. Sementara kulihat gadis itu memeluk ibunya.

            Keadaan sudah mulai tenang. Satu persatu keluarganya mulai berdatangan. Kulihat dilayar monitor mulai stabil. Istri pak suyono memanggilku kemudian mengajakku berbuka puasa# eh iya waktu itu tepat di bulan ramadlan.

                                                                        ***

            Mobil di parkir di depan restoran. Kami bertiga beserta saudaranya pak tarman memasuki restoran. Sungguh aku tak pernah memasuki tempat ini. Tak sedikit mata melirik kearah kami. Aku sangat sadar. Mereka melihat pakaianku yang berbeda dari yang lainya. Sarung berhem pendek dan berkopyah serta memakai totebag yang dalamnya adalah Al quran.

            Nak, Mau pesan apa? Istri pak suyono mengajukan pertanyaan padaku

            “Seafood”. Aku memilih seafood karna aku tak mengerti di kertas menu. Semua berbahasa inggris. Dan aku memilih seafood sudah pasti halal.

            “Nak, Kenalkan ibu ini saudaranya pak tarman. Ia akan menceritakan kronologi penyakit yang di derita pak tarman.

            “Langsung saja dek ya, Ia adalah sosok yang  sangat baik,pekerja keras. Ia terlalu terlena dengan dokumen-dokumen di kantornya. Ia jarang minum air, kesehatanya seolah tak di pedulikan,makan tidak  teratur.  Ia sibuk bekerja dan lupa menikmatinya. Hinga akhirnya ia kecelakaan mobilnya menabarak pohon. Ia masih hidup harusnya ia banyak banyak istirahat. Ia memaksakan diri untuk terus bekerja hingga akhirnya kepalanya terbentur dan pembuluh otaknya pecah saat dikamar mandi”

            Suasana di restoran itu semakin ramai. Muda mudi dan rombogan keluarga berdatangan. Mungkin untuk merayakan kemenangan setelah selesainya berpuasa. Ah, padahal esensi berpuasa bukan hanya menahan lapar dan haus. Ia lebih dari itu. Ia menahan dari segala godaan nafsu yang bersifat  kesenangan sementara dan menahan dari sifat-sifat hewani. Apakah seorang yang hanya menahan lapar dan haus dengan tidur bisa dikatakan menang. Bukankah hewan juga dengan mudah bisa melakukan itu. Ntahlah. Ibu itu terus menceritakan tentang pak tarman.

            “Maaf buk sebelumya, Apakah pak tarman pernah memakai jimat.”aku menyela

            “Benar. Ada banyak jimat.dan bacaan amalan-amalan”

            “Nak,apakah Al quran bisa menghilangkan jimat-jimat itu. Istri pak suyono menyela.

            Aku terdiam. Laju pikiranku tertuju pada teman-teman di kampusku. seringkali aku mendengar para mahasiswa mengunakan rapalan do’a untuk menarik lawan jenisnya. Ia hafal seberapapun panjangnya. Ia amalkan demi gadis yang dicintainya. Bukankah itu sama dengan yang dilakukam oleh pak tarman hanya saja objeknya yang berbeda.  Ntahlah. Selalu kuingat guru ngajiku pernah berkata “Kalo membaca al quran baca saja, jangan niat ingin ini itu. Serahkan saja pada yang maha kuasa.    

            “Buk, Alquran itu penyembuh,petunjuk. Insya allah bisa. Asalkan kita membacanya dengan ikhlas.

            “Tapi, Nak sudah seringkali putrinya dan istrinya mdembacakan Aquran. Seakan jimat-jimaytnya tidak mau keluar.”

            “Buk,setelah makan saya mau izin pamit, pulang saya ingin membaca Alquran di kos. Seraya berdo’a semoga pak tarman diberi jalan yang terbaik Oleh tuhannya”. Tepat pukul 3 aku menerima pesan bahwa pak tarman telah meninggal dunia dengan tenang.

di tulis di Nganjuk. 24 Desember 2019.
 Ter inspirasi dari kejadian nyata saat semester 2.


















































             



















           



           







































































           













  






























































































































































































































Selasa, 17 Desember 2019

N.E.K.A.T

Foto doc. Sumber :warung-sepur-buyut-suro,busines,site



                                     N.E.K.A.T

Ia  seperti manusia biasa. Makan,minum serta tidur jika lelah mulai menghampiri.  Jika dilihat sekilas sungguh tak ada keistimewaan.  Tapi jika kau tau tentang kehidupanya kau akan tertegun. Tentang sebuah tekad dan bakat. Membuatnya ia berbeda dari manusia pada umumnya.  Tekad dan bakat itulah yang membuatnya benar benar hidup. Seperti  hobinya melukis karikatur yang hidup di hati yang memesanya.

Jika kau berjalan sekitar tiga meter  ke arah selatan  tepat di kanan jalan dekat pertigaan ada bangunan mirip kepala kereta lengkap dengan manusia berseragam masinis.  Sesekali ia memberi karcis pada setiap insan yang datang. Dengan ramah serta senyum yang manis  manusia berseragam masinis akan mencatat apa yang kita tunjuk oleh jari kita di setiap karcis yang di berikan. Sayangnya Jika kau mencari lokasi tujuan kesebuah daerah, rumah ke kasihmu misalnya. kau tidak akan pernah menemukan. Karcis itu hanya berisi makanan dan minuman. Karna itulah ia berbeda dari kereta pada umumnya dan karna itulah ia di beri nama “Warong Sepor

Pak khresna adalah manusia pemilik warong sepor walaupun ia tak sepenuhnya memilikinya. Ia paroan dengan teman seperjuanganya. Kawan aku akan sedikit menceritakan pertemuanku dengannya dengan sosok manusia yang berbeda dari khlayak.Lengkap dengan kereta yang berbeda dengan kereta biasa.

Ia duduk tak jauh dari manusia yang berdiri lengkap dengan manusia berseragam masinis, Lampu yang berwarna kekuningan ditambah musik-musik  yang di sediakan oleh warong tersebut membuat suasa semakin syahdu. Ia memegang rokok  dan menawarkan pada kami sayang waktu itu diantara kami tidak ada yang merokok.

“Bapak menggambar karikatur dulu, belajarnya otodidak atau sekalah?” Syafi Pengabadi gambar mengajukan pertanyaan.

“Saya dulu sejak kecil hobi melukis,lalu kuliah di salah satu perguruan tinggi malang jurusan lukisan. Saat itulah saya menemukan kecocokan, Namun saya lulus tidak tepat waktu.”

“Mengapa?” Asri seorang gadis  penyuka sastra menyentuh kacamatanya tampak penasaran

“Saya akan bercerita?” Suasa jadi jadi tampak syahdu musik musik terus dimainkan dan seorang perempuan berseragam masinis yang berdiri tak jauh dari kami  tersenyum manis ntah karena apa. Mungkin memang sudah tugasnya untuk selalu tersenyum. Tapi apakah selalu begitu. Selalu tersenyum pada setiap insan yang berkunjung kesini. Apakah kau akan mengatakan tugas. Pada setiap angin yang  berembus?  Juga pada lautan ketika bergelombang? Bahkan pada matahari ketika ia bersinar. Ntahlah aku tak mau memikirkan itu. Lebih baik aku mendengarkan cerita ini.

“Dulu sejak di kuliah aku juga bekerja, disebuah kantor lukisan, maklum saya kuliah dengan biaya sendiri. Jadi karna kurang bisa bagi waktu akhirnya telat”.

“Pak di Instagram bapak sepertinya,bapak sering jalan jalan keluar?” Asri mengajukan pertanyaan kembali

“Iya, sering bahkan sejak kuliah. Jadi mau kemana ya..langsung berangkat. Seperti dulu waktu kuliah, salah satu temanku mengajak kebandung. Langsung seketika berangkat. Nanti disana urusan belakang. Tapi biasanya di sana kita jual lukisan atau komik komik-komik buatan sendiri. Yang penting Nekat”

Laju pikiranku tertuju pada sebuah angan. Tentang sebuah kata ” Nekat”. Aku teringat banyak sekali penulis besar bermula dari nekat. Mereka rela mengeluarkan uang banyak hasil kerja kerasnya untuk melalang buana ke negeri sembarang. Kemudian mereka membuat karya walaupun proses sampai karya itu besar masih panjang tapi dengan sebuah tekad dan komitmen dia menjadi penulis terkenal salah satunya adala fiersa besari.   Jujur waktu itu aku ingin menanyakan “Apakah bapak tidak menulis perjalanan bapak?. Sayangnya  ketika akau mau menanyakan itu temanku cowok pengabadi gambar duluan menanyakan sesuatu lain.

“Pak, setelah bapak lulus apakah bapak tetap melanjutkan hobi sebagai pelukis.”

“Iya, saya ke bali sebagai pelukis dan sukses di sana. Banyak sekali yang memesan lukisan saya mulai dari penduduk bali,tokoh tokoh2 masyarakat bali hingga para pejabat dan apresiasi mereka terhadap karya seni begitu tinggi salah satunya membeli dengan harga tinggi Hingga saatnya tiba saya menikah”. Pemuda tersebut mengambil rokok sambil menawarkan kepada kami. Sesekali ada orang yang menyapa beliau.

“Nak,selama Masih muda melalangbuanalah ke negeri sembarang. Buang rasa takut. Allah bersama orang-orang yang nekat”. Aku tersenyum ternyata banyak sekali kehidupan manusia yang menarik di sekitar kita. Hanya saja seringkali kita melewatkan.

“Apakah, Bapak pernah berada dititik terendah,lalu apa yang bapak lakukan” Pertanyaanku sedikit miring.

“ Setiap orang pasti pernah berada di titik terendah, termasuk bapak. Namun jangan sampai kau hanya diam.  Hadapi !!! jika kau tak kuat menghadapi dengan berdiri maka hadapilah dengan merangkak meskipun kau tetatih satu hal  jangan sampai takut apalagi lari.” Sebuah kata yang membuatku untuk bangkit kembali.

Seorang berambut putih berkaos hitam berkacama mata yang berda di belakang pak khresna  tampak tetap santai menikmati layar ponselnya sesekali ia mengangguk dan tersenyum sendiri. Dan aku  juga mengangguk tetapi bukan karna layar hp. Mengangguk akan cerita pak khresna. Sesekali pak khresna menyapanya “bentar ya bro?” lalu di belakangnya menjawab “iya santai”.

Kuamati ia mengambil sebatang rokok. Matanya memandang keatas sebentar kemudia mengambil korek.  Kemudian membakar ujung rokoknya,sedikit menghisapnya lalu asap keluar dari bibir tak bertulangnya.

“ Titik terendahku saat aku sukses. Lalu aku di tipu temanku sendiri waktu di bali seluruh rumah mobil hangus,bahkan sekarang mantan istri tak tau kemana. Itu titik terendahku. Kemudian ia menghisap rokoknya lalu mengeluarkan asap kembali dari bibir tak bertulangnya.

“Aku pulang dan mengerjakan pesanan lukisan seadanya.  Lalu ada teman tang menawari ada warong kopi siap pakai satu tahun 14 juta. Aku ragu tapi lagi-lagi aku teringat dengan sebuah kata. Allah bersama dengan orang-orang yang nekat”

“Dari mana bapak mendapat uang sebanyak itu?”

“ Sekalilagi Allah bersama orang-orang yang nekat. Aku memberanikan diri untuk memberi DP sebesar 3 Juta karna memang aku tak punya uang banyak. Syukur temanku mau,akhirnya aku berusaha merawat warong tersebut dan syukur perekonomian ku mulai membaik. Dan tak lama aku bersama temanku mendirikan warong sepur disini ini”.

“Pak mohon maaf kita mau pamit,soalnya ditunggu teman teman” Permohinan Asri inii penutup dari perbincangan ini. Lalu kami pamit unur diri. Kuamati pak khresna berpindah duduk dengan seorang yang adi di belakangnya





“Semoga kita menjadi orang yang tidak mengenal kata putus asa”



Sabtu, 14 Desember 2019

Jejak 1

   Ia bertubuh kurus, jarang makan dan menderita. Bukan karna sakit tapi tubuhnya di paksa untuk terus bekerja oleh tuannya. Tak sedikit diantara mereka yang mati akibat kelaparan atau bahkan tembakan. Perlindungan hukumpun seakan tak berlaku bagi mereka. Upahpun tak sebanding dengan kerja keras mereka. Begitulah sedikit penderitaan orang-orang "Romusha". Sebuah luka yang mendalam bagi bangsa.

       "Tempat ini sangat indah yaa??" Ungkap salah satu wanita penyuka bunga aster.
      " iya mbak, anginya juga sejuk,kalo dipinggir jalan,tetapi kalo dekat di goa romusha. Kayaknya panas." Salah satu wanita penyuka kelopak mawar putih mencoba menambahkan.

  Angin laut bertiup ke arah kami. Seakan mereka menyambut baik kehadiran kami. Lalu lalang kendaraan di jalanan pegunungan ini. Membuat kami harus lebih berhati hati.

"Kenapa ini dinamakan goa romusha??" Sebuah pertanyaan dari garis penyuka kelopak mawar putih yang membuatku ikut berfikir.

"Kalian tau. Saat penjajahan jepang??? Pada masa itu dilaksanakan kerja paksa disini. Tempat ini digunakan untuk mengalirkan kelebihan air berantas ke sungai hindia. Namun karena kekalahan jepang pada perang dunia ke dua waktu terutama waktu pengeboman hiroshima dan nagashaki, proyek ini terhenti. Kemudian sisa galian aliran ini dinamakan "goa romusha" seorang cowok berkacamata diantara kami menjawab.

" bahkan ada yang sampai mati. Penyebabnya bisa sakit kelaparan atau bahkan di tembak. Marilah kita sejenak menundukan kepala pada para pahlawan-pahlawan tempat ini sebelum kita memasuki goa romusha" tambahku.

Sejenak kami menundukkan kepala. Angin laut yang berhembus seakan ikut merasakan iba.  Sisa  sisa galian yang indah ini ternyata menyisakan kenangan yang mendalam bagi bangsa. Kau tentu ingat bagaimana  hukum sedikitpun tak bisa memayungi masyarakat Ralat !! Penegakan hukum tak berlaku bagi mereka para penjajah.  Jika tuan penjajah ingin membunuhnya atau tak menggajinya sekalipun. tidak ada hukuman bagi mereka.

 #semoga tidak ada sistem penjajahan lagi di dunia ini