
Sumber doc: https://difalovers.wordpress.com/2013/05/13/10-etika-dalam-menggunakan-komputer-dan-internet/
L.A.L.A.I
Ia terkapar lemah tak berdaya. Matanya
terpejam, Sesekali napasnya tersenggal senggal. Kepala bagian atas diikat
akibat pecahnya pembuluh otak sehingga ia harus di operasi. Ia termasuk pasien
istimewa. Bagaimana tidak ruangan ber ac,mewah serta peralatan yang menunjukkan
detak jantung terpasang di dekatnya. Namun Apalah arti itu semua. Jika infus
serta alat pembuat nafas buatan selalu melekat pada tubuhnya. Aku merasakan
Hidupnya tinggal hari esok atau bahkan tak sampai. Berkali kali bacaan ayat
suci dilantunkan kepadanya melalui handphon. Pesan pesan kebaikan selalu di
dengungkan ke telinganya. Para dokter keluar masuk untuk mengetahui
perkembangan kesehatanya. Saudara-saudaanya sebagian masih mengurusi pekerjaan.
“Asslamu’alaikum
wr.wb”. Seorang bocah datang keruanganya
“Wa’alaikumussalam
wr,wb. Adik siapa ya.?? Seorang kakek mengajukan pertanyaan kepadaku
Anak istrinya terisak isak menahan tangis. Sebuah nama
tertulis dipapan tepat di bawah kakinya “Pak Tarman” lengkap dengan usia serta
nama perawat yang menanganinya. Ac masih menyala dingin. Diruangan itu hanya
ada 2 pasien dan di batasi dengan “slambu”.
“Aku
Atif pak.” Kakek itu tampak masih kebingungan. Ia menoleh sebentar kearah
jendela kemudian memandangku kembali.
“Atif
siapa??”
“Atif
yang di suruh oleh pak agus untuk
membacakan yasin.”. Kakek itu tampaknya mulai sedikit memahami tapi ia belum
percaya sepenuhnya karna mungkin tubuhku yang kecil. Ia mengajukan pertanyaan
kepadaku kembali
“Bapak
suyono siapa?”
“ Bapak
suyono kepatihan”
“Oalah,
mari mari dek”
Kakek
itu memperkenalkan Cucu dan istri pak tarman kepadaku. Kemudian ia mempersilahkanku
mau melakukan apa apapun. Suasana sangat hening. Matahari mulai merangkak kembali ke
peraduanya. Langit memerah seakan memberi peringatan hari ini akan berakhir.
Anak dan istri pak tarman berdiri disamping kiri pak tarman menahan tangis.
Sedangkan aku di sebelah kanan pak tarman. Sementara seorang kakek mematung di
dekatku seakan terus mengawasi pergerakanku. Kulihat tanda di monitaor stabil.
Walaupun sesekali napasnya tersenggal senggal.
“Kek,apakah
aku boleh minta air sebotol”.
Kakek
itu seakan tak tak percaya bahwa aku yang diutus oleh pak agus saudaranya
sendiri untuk kesini. Ia menyuruh cucunya untuk mengambilkan air untukku. Kuletakkan air
itu di meja dekat kepala pak tarman. Kemudian aku meminta izin pada kakek dan keluarga
“Kek,sebenarnya
saya disini diundang pak agus untuk membaca yasin di dekat pak tarman. Saya
mohon izin pada kakek dan keluarga untuk membaca yasin sebanyak 3.
***
Matahari mulai menuju tempat peristirahatanya. Burung-burung mulai kembali kesarangnya lalu menyerahkan harapan hari esok
kepada tuhannya. Adzan magrib
dikumandangkan dari segala penjuru. Jika tanah menjadi alamat selanjutnya tentu
tak akan ada lagi canda tawa bersama anak istrinya. Ia akan bertemu sunyi,
gelap dan berteman dengan belatung.,meratapi dosa. Hanya amalan baiklah yang
bisa mengubah tempat itu menjadi indah. Anak gadis itu menahan tangis. Air mtanya
sesekali keluar merembes mengalir kesudut pipinya. Aku terus membaca yasin dan
ini sudah ke tiga kalinya di ayat ayat trakhir.
”Ada apa
ini?” istri pak tarman bingung.
Tiba-tiba
dipan rumah sakit bergetar-getar makin lama makin kencang. Tiang infus seolah
hendak merobohkan raganya. Nafasnya kembali tersenggal-senggal,layar di monitor
tak stabil. Ruangan itu mendadak berubah menjadi panik. Rapalan do’a do,a di
dengungkan oleh anak dan istrinya.Nama-nama indah digunakan untuk merayu sang
pencipta. Sementara sang kakek pergi memanggil dokter dan aku masih melanjutkan
bacaan hingga selesai.
”Kakek
tenang duduk dulu ya tidak ada apa-apa”. Dokter mencoba menenangkan kakek.
Jujur sebenarnya aku juga sedikit ketakutan tapi apalah
daya. Aku harus menyelesaikan bacaanku. Air botol disampingku masih berdiri.
Airnya bergerak akibat terkena goncangan. Aku Selesai membaca yasin
kututup Al quran. Aku mendekati kakek
yang panik. Kucoba menenangkanya. Sementara kulihat gadis itu memeluk ibunya.
Keadaan
sudah mulai tenang. Satu persatu keluarganya mulai berdatangan. Kulihat dilayar
monitor mulai stabil. Istri pak suyono memanggilku kemudian mengajakku berbuka
puasa# eh iya waktu itu tepat di bulan ramadlan.
***
Mobil di
parkir di depan restoran. Kami bertiga beserta saudaranya pak tarman memasuki
restoran. Sungguh aku tak pernah memasuki tempat ini. Tak sedikit mata melirik
kearah kami. Aku sangat sadar. Mereka melihat pakaianku yang berbeda dari yang
lainya. Sarung berhem pendek dan berkopyah serta memakai totebag yang dalamnya
adalah Al quran.
Nak, Mau
pesan apa? Istri pak suyono mengajukan pertanyaan padaku
“Seafood”.
Aku memilih seafood karna aku tak mengerti di kertas menu. Semua berbahasa
inggris. Dan aku memilih seafood sudah pasti halal.
“Nak,
Kenalkan ibu ini saudaranya pak tarman. Ia akan menceritakan kronologi penyakit
yang di derita pak tarman.
“Langsung
saja dek ya, Ia adalah sosok yang sangat
baik,pekerja keras. Ia terlalu terlena dengan dokumen-dokumen di kantornya. Ia
jarang minum air, kesehatanya seolah tak di pedulikan,makan tidak teratur.
Ia sibuk bekerja dan lupa menikmatinya. Hinga akhirnya ia kecelakaan
mobilnya menabarak pohon. Ia masih hidup harusnya ia banyak banyak istirahat.
Ia memaksakan diri untuk terus bekerja hingga akhirnya kepalanya terbentur dan pembuluh otaknya
pecah saat dikamar mandi”
Suasana
di restoran itu semakin ramai. Muda mudi dan rombogan keluarga berdatangan.
Mungkin untuk merayakan kemenangan setelah selesainya berpuasa. Ah, padahal
esensi berpuasa bukan hanya menahan lapar dan haus. Ia lebih dari itu. Ia
menahan dari segala godaan nafsu yang bersifat
kesenangan sementara dan menahan dari sifat-sifat hewani. Apakah seorang
yang hanya menahan lapar dan haus dengan tidur bisa dikatakan menang. Bukankah
hewan juga dengan mudah bisa melakukan itu. Ntahlah. Ibu itu terus menceritakan
tentang pak tarman.
“Maaf
buk sebelumya, Apakah pak tarman pernah memakai jimat.”aku menyela
“Benar.
Ada banyak jimat.dan bacaan amalan-amalan”
“Nak,apakah
Al quran bisa menghilangkan jimat-jimat itu. Istri pak suyono menyela.
Aku
terdiam. Laju pikiranku tertuju pada teman-teman di kampusku. seringkali aku
mendengar para mahasiswa mengunakan rapalan do’a untuk menarik lawan jenisnya.
Ia hafal seberapapun panjangnya. Ia amalkan demi gadis yang dicintainya.
Bukankah itu sama dengan yang dilakukam oleh pak tarman hanya saja objeknya
yang berbeda. Ntahlah. Selalu kuingat
guru ngajiku pernah berkata “Kalo membaca al quran baca saja, jangan niat ingin
ini itu. Serahkan saja pada yang maha kuasa.
“Buk,
Alquran itu penyembuh,petunjuk. Insya allah bisa. Asalkan kita membacanya
dengan ikhlas.
“Tapi,
Nak sudah seringkali putrinya dan istrinya mdembacakan Aquran. Seakan
jimat-jimaytnya tidak mau keluar.”
“Buk,setelah
makan saya mau izin pamit, pulang saya ingin membaca Alquran di kos. Seraya
berdo’a semoga pak tarman diberi jalan yang terbaik Oleh tuhannya”. Tepat pukul
3 aku menerima pesan bahwa pak tarman telah meninggal dunia dengan tenang.
di tulis di Nganjuk. 24 Desember 2019.
Ter inspirasi dari kejadian nyata saat semester 2.