Selasa, 24 Desember 2019

L.A.L.A.I


                                         Sumber doc: https://difalovers.wordpress.com/2013/05/13/10-etika-dalam-menggunakan-komputer-dan-internet/



L.A.L.A.I


             Ia terkapar lemah tak berdaya. Matanya terpejam, Sesekali napasnya tersenggal senggal. Kepala bagian atas diikat akibat pecahnya pembuluh otak sehingga ia harus di operasi. Ia termasuk pasien istimewa. Bagaimana tidak ruangan ber ac,mewah serta peralatan yang menunjukkan detak jantung terpasang di dekatnya.  Namun Apalah arti itu semua. Jika infus serta alat pembuat nafas buatan selalu melekat pada tubuhnya. Aku merasakan Hidupnya tinggal hari esok atau bahkan tak sampai. Berkali kali bacaan ayat suci dilantunkan kepadanya melalui handphon. Pesan pesan kebaikan selalu di dengungkan ke telinganya. Para dokter keluar masuk untuk mengetahui perkembangan kesehatanya. Saudara-saudaanya sebagian masih mengurusi pekerjaan.

            “Asslamu’alaikum wr.wb”. Seorang bocah datang keruanganya

            “Wa’alaikumussalam wr,wb. Adik siapa ya.?? Seorang kakek mengajukan pertanyaan kepadaku

Anak istrinya terisak isak menahan tangis. Sebuah nama tertulis dipapan tepat di bawah kakinya “Pak Tarman” lengkap dengan usia serta nama perawat yang menanganinya. Ac masih menyala dingin. Diruangan itu hanya ada 2 pasien dan di batasi dengan “slambu”.

            “Aku Atif pak.” Kakek itu tampak masih kebingungan. Ia menoleh sebentar kearah jendela kemudian memandangku kembali.

            “Atif siapa??”

            “Atif yang di suruh oleh pak  agus untuk membacakan yasin.”. Kakek itu tampaknya mulai sedikit memahami tapi ia belum percaya sepenuhnya karna mungkin tubuhku yang kecil. Ia mengajukan pertanyaan kepadaku kembali

            “Bapak suyono siapa?”

            “ Bapak suyono kepatihan”

            “Oalah, mari mari dek”

            Kakek itu memperkenalkan Cucu dan istri pak tarman kepadaku. Kemudian ia mempersilahkanku mau melakukan apa apapun. Suasana sangat hening. Matahari mulai merangkak kembali ke peraduanya. Langit memerah seakan memberi peringatan hari ini akan berakhir. Anak dan istri pak tarman berdiri disamping kiri pak tarman menahan tangis. Sedangkan aku di sebelah kanan pak tarman. Sementara seorang kakek mematung di dekatku seakan terus mengawasi pergerakanku. Kulihat tanda di monitaor stabil. Walaupun sesekali napasnya tersenggal senggal.

            “Kek,apakah aku boleh minta air sebotol”.

            Kakek itu seakan tak tak percaya bahwa aku yang diutus oleh pak agus saudaranya sendiri untuk kesini. Ia menyuruh cucunya untuk mengambilkan air untukku. Kuletakkan air itu di meja dekat kepala pak tarman. Kemudian aku meminta izin pada kakek dan keluarga

            “Kek,sebenarnya saya disini diundang pak agus untuk membaca yasin di dekat pak tarman. Saya mohon izin pada kakek dan keluarga untuk membaca yasin  sebanyak 3. 

                                                            ***

            Matahari  mulai menuju tempat peristirahatanya. Burung-burung mulai kembali kesarangnya lalu menyerahkan harapan hari esok kepada tuhannya.  Adzan magrib dikumandangkan dari segala penjuru. Jika tanah menjadi alamat selanjutnya tentu tak akan ada lagi canda tawa bersama anak istrinya. Ia akan bertemu sunyi, gelap dan berteman dengan belatung.,meratapi dosa. Hanya amalan baiklah yang bisa mengubah tempat itu menjadi indah. Anak gadis itu menahan tangis. Air mtanya sesekali keluar merembes mengalir kesudut pipinya. Aku terus membaca yasin dan ini sudah ke tiga kalinya di ayat ayat trakhir.

            ”Ada apa ini?” istri pak tarman bingung.

            Tiba-tiba dipan rumah sakit bergetar-getar makin lama makin kencang. Tiang infus seolah hendak merobohkan raganya. Nafasnya kembali tersenggal-senggal,layar di monitor tak stabil. Ruangan itu mendadak berubah menjadi panik. Rapalan do’a do,a di dengungkan oleh anak dan istrinya.Nama-nama indah digunakan untuk merayu sang pencipta. Sementara sang kakek pergi memanggil dokter dan aku masih melanjutkan bacaan hingga selesai.

            ”Kakek tenang duduk dulu ya tidak ada apa-apa”. Dokter mencoba menenangkan kakek.

Jujur sebenarnya aku juga sedikit ketakutan tapi apalah daya. Aku harus menyelesaikan bacaanku. Air botol disampingku masih berdiri. Airnya bergerak akibat terkena goncangan. Aku Selesai membaca yasin kututup  Al quran. Aku mendekati kakek yang panik. Kucoba menenangkanya. Sementara kulihat gadis itu memeluk ibunya.

            Keadaan sudah mulai tenang. Satu persatu keluarganya mulai berdatangan. Kulihat dilayar monitor mulai stabil. Istri pak suyono memanggilku kemudian mengajakku berbuka puasa# eh iya waktu itu tepat di bulan ramadlan.

                                                                        ***

            Mobil di parkir di depan restoran. Kami bertiga beserta saudaranya pak tarman memasuki restoran. Sungguh aku tak pernah memasuki tempat ini. Tak sedikit mata melirik kearah kami. Aku sangat sadar. Mereka melihat pakaianku yang berbeda dari yang lainya. Sarung berhem pendek dan berkopyah serta memakai totebag yang dalamnya adalah Al quran.

            Nak, Mau pesan apa? Istri pak suyono mengajukan pertanyaan padaku

            “Seafood”. Aku memilih seafood karna aku tak mengerti di kertas menu. Semua berbahasa inggris. Dan aku memilih seafood sudah pasti halal.

            “Nak, Kenalkan ibu ini saudaranya pak tarman. Ia akan menceritakan kronologi penyakit yang di derita pak tarman.

            “Langsung saja dek ya, Ia adalah sosok yang  sangat baik,pekerja keras. Ia terlalu terlena dengan dokumen-dokumen di kantornya. Ia jarang minum air, kesehatanya seolah tak di pedulikan,makan tidak  teratur.  Ia sibuk bekerja dan lupa menikmatinya. Hinga akhirnya ia kecelakaan mobilnya menabarak pohon. Ia masih hidup harusnya ia banyak banyak istirahat. Ia memaksakan diri untuk terus bekerja hingga akhirnya kepalanya terbentur dan pembuluh otaknya pecah saat dikamar mandi”

            Suasana di restoran itu semakin ramai. Muda mudi dan rombogan keluarga berdatangan. Mungkin untuk merayakan kemenangan setelah selesainya berpuasa. Ah, padahal esensi berpuasa bukan hanya menahan lapar dan haus. Ia lebih dari itu. Ia menahan dari segala godaan nafsu yang bersifat  kesenangan sementara dan menahan dari sifat-sifat hewani. Apakah seorang yang hanya menahan lapar dan haus dengan tidur bisa dikatakan menang. Bukankah hewan juga dengan mudah bisa melakukan itu. Ntahlah. Ibu itu terus menceritakan tentang pak tarman.

            “Maaf buk sebelumya, Apakah pak tarman pernah memakai jimat.”aku menyela

            “Benar. Ada banyak jimat.dan bacaan amalan-amalan”

            “Nak,apakah Al quran bisa menghilangkan jimat-jimat itu. Istri pak suyono menyela.

            Aku terdiam. Laju pikiranku tertuju pada teman-teman di kampusku. seringkali aku mendengar para mahasiswa mengunakan rapalan do’a untuk menarik lawan jenisnya. Ia hafal seberapapun panjangnya. Ia amalkan demi gadis yang dicintainya. Bukankah itu sama dengan yang dilakukam oleh pak tarman hanya saja objeknya yang berbeda.  Ntahlah. Selalu kuingat guru ngajiku pernah berkata “Kalo membaca al quran baca saja, jangan niat ingin ini itu. Serahkan saja pada yang maha kuasa.    

            “Buk, Alquran itu penyembuh,petunjuk. Insya allah bisa. Asalkan kita membacanya dengan ikhlas.

            “Tapi, Nak sudah seringkali putrinya dan istrinya mdembacakan Aquran. Seakan jimat-jimaytnya tidak mau keluar.”

            “Buk,setelah makan saya mau izin pamit, pulang saya ingin membaca Alquran di kos. Seraya berdo’a semoga pak tarman diberi jalan yang terbaik Oleh tuhannya”. Tepat pukul 3 aku menerima pesan bahwa pak tarman telah meninggal dunia dengan tenang.

di tulis di Nganjuk. 24 Desember 2019.
 Ter inspirasi dari kejadian nyata saat semester 2.


















































             



















           



           







































































           













  






























































































































































































































Tidak ada komentar:

Posting Komentar