MENUNGGU
“Sebuah jawaban atas catatan junior”
Kau
sedang duduk memendam emosi didadamu. dipinggiran jalan kau lihat lalulang
kesibukan manusia membuatmu semakin emosi. Ingat tidak. Hingga kau menulis
catatan kritik dan memberi penegasan
pada namaku. Padahal di alinea awal kau menuliskan teruntuk senior yang namanya tersamarkan. Ah ! tampaknya kau
tipe orang yang suka membuat pertentangan. Tak usah gusar ini sekarang aku baca
semua catatanmu itu. Sekarang pasti kau sudah bisa melepas kemarahanmu. Seperti
kata firsa besari “Menulis adalah terapi
untuk diri sendii”.
“kemarin
sudah ditunda lho dengan berangkat hari ini diwaktu pagi. Tapi sekarang sudah
siang?” Kau lemparkan sedikit kemarahanmu melalui ponsel akibat terlalu lama
menunggu.
Aku
tau kau sudah lama menunggu. Satu hari lebih
setengah hari di jalanan itu. Kaupun juga takut jika semakin sore akan terjadi
hujan. Lalu badai datang. Sementara orang yang kau tunggu tak kunjung datang. Padahal
kau berharap cepat berangkat agar tidak ada satupun air yang mengenaimu dalam perjalanan.
Matahari
mulai merangkak sedikit kebarat. Sesekali kendaraan mengamuk dengan membunyikan
klaksonya. Sesekali seseorang menawarkanmu bersinggah di rumahnya karna merasa
iba. Dan seketika itu kemarahanmu semakin memuncak kepadaku. Kau ingin
mengumpat tapi kepada siapa karna orang yang kau benci belum juga daatang.
Wahai
junior. Aku sebenarnya juga ingin marah pada birokasi yang panjang yang
berbelit-belit. Birokrasi yang menyusahkan dan membuang-buang waktu
masyarakatnya. Apalagi harus berbolak-balik terombang-ambing. Kita tepat waktu
tapi petugasnya molor dan jarang sekali ada penindakan terhadap mereka. Katanya
ada pemotongan sistem birokarasi dengan daring. Tapi sistemnya seingkali eror. Ah!.
Tapi sebagai masyarakat biasa mungkin protespun tak pernah didengar. Mereka akan
mengatakan “Kalian tidak tahu keadaan disini semua sudah tersistem” lalu meneruskan
pekerjaanya tanpa memedulikan kami. Bukankah mereka adalah pelayan masyarakat
yang harusnya mendengar aspirasi. Ah aku ingin melempar kemarahan ku pada
rumput,pada pohon-pohon yang selalu diam. Aku ingat periswa masa lalu peristiwa
saat di surabaya.. Masyarakat harus berbolak-balik hanya untuk mengurus E ktp. Ah sudhlah!. Aku ingin segera menemuimu.dan
melaju kencang ke tempat tujuan
traveling bersama teman-teman. Kuharap kau tak memarahiku lagi.
Sebagai
penutup dari tulisan ini kau tentu ingat asma nadia pernah mengatakan”Bagi
traveler,kehilangan sesuatu diperjalanan pasti pahit,bahkan bisa merusak semua rencana yang sudah di susun. Tapi
keikhlasan akan membuat satu dua kehilangan atau peristiwa tak diinginkan yang sangat mungkin terjadi. Tak menguapkan
semua keceriaan selama perjalanan”
Tulungagung,25 Januari 2020

Mantab
BalasHapus